Lebih Dua Ribu Warga Aceh Terjangkit HIV/AIDS, Banda Aceh Terbanyak

PopularPost.Id, Banda Aceh – Sebanyak 2.021 warga aceh  dinyatakan mengidap HIV dan AIDS. Dari jumlah itu, sebanyak 1.270 menderita HIV dan sisanya sebanyak 751 terjangkit AIDS.

Data itu dirilis oleh Dinas Kesehatan Aceh melalui laman resminya www.dinkes.acehprov.go.id yang diakses media ini, Sabtu (29/7/2023). Adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Iman Murahman, Sp.KKLP, yang menjadi narasumber pemberitaan tersebut.

Dia menjelaskan, bahwa Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) memiliki perbedaan. HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia namun tidak memiliki gejala, sedangkan AIDS suatu kondisi penurunan daya tahan tubuh yang parah akibat dari serangan virus HIV tersebut.

“Jika kita lihat yang masih dalam pengobatan HIV/AIDS itu ada 717 pasien, dan yang terbanyak di kota Banda Aceh yakni 302 pasien,” papar Iman dalam rilis itu.

Menurut keterangan pejabat ini, Banda Aceh memiliki pasien HIV dan AIDS terbanyak di Aceh. Hal itu, kata dia, disebabkan karena data penderita bisa diketahui di rumah sakit yang ada ibu kota Provinsi Aceh, yakni Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), RSUD Meuraxa, dan lainnya.

Dia memastikan, bahwa faktor utama penularan penyakit HIV dan AIDS di Aceh adalah sex bebas. “Kemudian dari ibu hamil ke bayi, pengguna narkoba, suntik dengan memakai jarum yang sama dan berulang,” ungkapnya.

Iman juga menambahkan, bahwa dalam waktu 2-3 tahun terakhir ini kasus terbanyak sebagai pemicu HIV/AIDS didominasi oleh perilaku menyimpang Lelaki Sex Lelaki atau LSL. Selama ini, kata dia, Dinas Kesehatan Aceh telah berupaya untuk pencegahan HIV/AIDS lewat pendekatan kepada populasi kunci. Mulai pekerja sex, LSL, waria, dan pengguna narkoba suntik.

Kepada kelompok sasaran tersebut, katanya, diberikan edukasi dan melakukan Screening. “Kemudian pencegahan dari ibu ke anak agar tidak ada lagi yang tertular HIV dan bisa hidup normal,” ucap Iman.

Dia melanjutkan, bahwa ibu hamil diwajibkan untuk memeriksa HIV, termasuk pula semua warga binaan penjara, pekerja seks, LSL, dan waria. Selain itu, Dinkes juga memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah, Dayah dan tempat pendidikan lainnya.

“Bagi yang sudah terkena HIV kita lakukan pengobatan serta pemeriksaan setiap tahun, untuk melihat virus tersebut sudah meningkat atau tidak,” ucap Iman.

Dinas Kesehatan Aceh, kata Iman, juga melakukan sosialisasi kesehatan di rumah sakit tingkat provinsi dan Puskesmas untuk pencegahan HIV/AIDS. Kendala penanganan HIV di Aceh, kata dia, karena tidak adanya komunitas khusus untuk pengobatan. Pasien HIV biasanya berkunjung ke tempat-tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang dimiliki pemerintah. “Apalagi, daerah kita belum semua memiliki tempat pelayanan khusus penanganan HIV/AIDS,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *